Selasa, 09 Desember 2008

Hari Kamis yang menegangkan!!!

Waktu hari kamis, gw minta nilai mendengarkan sama Pak Ucok... Tapi, karena waktu pelajarannya gak cukup yang belum nyanyi disuruh nyanyi abiz sholat ashar di depan TU..
Ya udah abiz sholat ashar gw langsung ke depan TU. Huh... untungnya nyanyinya itu disuruh berdua-berdua. Akhirnya aku nyanyi bareng syiffa... tapi ternyata nyanyinya itu pake mike. Awalnya aku sempat bingung mau nyanyi lagu apa soalnya, kalo syiffa tau lagu ini, gw nggak tau. Giliran gw mau lagu ini, syiffanya yang nggak tau. Akhirnya dapat juga yang kita berdua tau yaitu "Cinta ini Membunuhku" agak aneh sieh emang, tapi biarin aja. Sebenarnya tadi mau lagu "I Love You" (yang lagunya Barnie itu loch) tapi kependekan, gak boleh
Nah, karena yang mau nyanyi banyak kita disuruh ngantri disamping loket pembayaran ekskul. Pas tiba giliran gw deg-deg an banget tuh... Nyanyinya juga sambil ketawa2 gitu. Eh habis itu aku dikasih nilai deh sama pak ucok 84.. Lumayan Lah...

Rabu, 03 Desember 2008

Tugas Akhir semester 1 dari Pak Ucok

Akhirnya sebentar lgi semester satu bakalan selesai. Ujian praktek B. Indonesia adalah menceritakan pengalaman yang mengesankan. Tapi kali ini kita disuruh membawa alat peraga. Karena aku menceritakan pengalamanku saat pura-pura tenggelam jadi aku membawa kacamata renangku sebagai alat peraganya. teman-temanku ceritanya sangat bagus jadi aku makin gugup dan pada saat giliranku tiba aku gemeteran banget. Setelah sampai didepan aku mulai bercerita:

Pernah ada kejadian yang sangat seru sewaktu aku berlibur bersama keluarga di Carita. Saat itu adalah liburan semester. Aku sekeluarga pergi menginap di Carita bersama dua keluarga lainnya, yang sebenarnya masih sepupuku. Kami menyewa dua villa dengan tiga kamar, dapur, dan ruang tamu. Aku sangat menikmati liburan kala itu. Aku juga mendirikan tenda di depan villa sehingga pada siang harinya aku bersama sepupu-sepupuku bermain di dalam tenda. Bangun pagi, aku langsung memakai pakaian renangku dan menuju pantai. Aku bermain pasir dipinggir pantai, membuat istana pasir sampai tak terasa banyak sekali pasir dan kerang yang masuk kedalam pakaian renangku sehingga gatal sekali rasanya. Sepupu-sepupuku sibuk juga dengan berspeedboat-ria dan berkano-ria. Setelah puas bermain dan matahari mulai terik aku pindah ke kolam renang yang letaknya masih di kompleks villa tempat aku menginap.
Suatu kali, aku berniat menggoda sepupuku dengan berpura-pura tenggelam. Tenggelam tidak akan ada dalam kamus hidupku sebenarnya karena sejak berumur tiga tahun aku sudah belajar berenang. Saat itu aku sudah menguasai semua gaya berenang. Sepupuku tau juga akan hal itu. Tapi aku sudah bosan bermain yang biasa-biasa aja. Nah, keisenganku timbul dan aku pura-pura tenggelam. Tolong...Tolong sambil menggoyangkan tangan ku dan menenggelamkan seluruh badanku kedalam air. Kemudian memunculkannya lagi sambil terus berteriak-teriak. Sepupuku menanggapinya dengan acuh. Namun ternyata ada orang yang menanggapi hal ini sangat serius yaitu penjaga kolam renang. Dia langsung terjun kedalam kolam dan menarik tubuhku keatas. Kemudian dia menanyakan, “Dek.... kamu tidak apa-apa?” Aku hanya bisa mengangguk-angguk. Sial bagiku karena si penjaga adalah orang terjelek yang pernah aku liat. Kulitnya hitam sehitam pantat panci dirumahku. Aku sungguh terkejut melihatnya. Sepupu-sepupuku hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat mukaku. Aku sungguh malu saat itu.
Sejak saat itu aku tidak pernah menginjakkan kakiku didalam kolam renang bahkan didekat kolam saja aku tidak mau karena aku malu kalo bertemu dengan sipenjaga kolam. Aku makan di villa saja. Hingga sekarang, sepupu-sepupuku masih terus saja menggoda aku jika kami berkumpul. Pura-pura tenggelam yang menghebohkan. Sungguh-sungguh suatu pengalaman yang tak akan pernah aku lupakan.

Setelah aku maju aku langsung sangat lega. Akhirnya aku melihat nilaiku ASSSYYYIIIKKK...YYEEESSS aku dapat bagus 85, aku senang banget deh!!!!

Puisi Mustafa Bisri

Pas aku lagi baca puisi, aku membacanya di dekat air mancur. Aku harus bersuara keras, supaya Pak ucok bisa mendengar suaraku dan agar aku bisaaa biar nilainya bagus... Terbukti aku mendapat nilai yang cukup bagus 83


Di Pelataran AgungMu Nan Lapang

Di pelataran agungMu
nan lapang kawanan burung merpati
sesekali sempat memunguti butir-butir
bebijian yang Engkau tebarkan
lalu terbang lagi
menggores-gores biru langit
melukis puja-puji
yang hening

Di pelataran agungMu
nan lapang aku setitik noda
setahi burung merpati menempel pada pekat
gumpalan yang menyeret warna bias kelabu
berputaran mengatur
melaju luluh dalam gemuruh
talbiah, takbir dan tahmit
Dikejar dosa-dosa
dalam kerumuman dosa
ada sebaris doa
siap kuucapkan
lepas terhanyut air mata
tersangkut di kiswah nan hitam

Di pelataran agungMu
nan lapang
aku titik-titik tahi merpati
menggumpal dalam titik noda berputaran,
mengabur, melaju, luluh
dalam gemuruh talbiah,
takbir dan tahmit
mengejar ampunan dalam lautan
ampunan
terpelanting dalam qouf dan roja.

Semalam di Lembang

TugaS DARI pAK UCCCOKKK datang lagi, yaitu menceritakan pengalaman yang mengesankan!!! Aku bingung mau cerita tentang apa. Ya udah, yang paling aku inget waktu aku perpisahan kelas 6 di Lembang. Dan ternyata aku ceritainnya lumayan gugup dan dikasih nilai 80...... Gini ceritanya:

Tiba juga saat yang kami nanti-nantikan, perpisahan kelas 6 di Lembang, Aku dan teman-teman berangkat dari Jakarta tepat pukul 8 pagi dengan Bus Pariwisata dan sampai di penginapan waktu sholat zuhur. Rasa lelah terpaksa kami tahan karena kamar-kamar yang akan kami tempati belum selesai dibersihkan oleh petugas. Kami menuju mushola yang ada di halaman hotel untuk sholat zuhur berjamaah. Karena musholanya kecil, terpaksa hanya beberapa orang saja yang dapat sholat berjamaah sedangkan lainnya memutuskan untuk menundanya nanti di kamar. Selesai sholat, kami langsung menuju kamar masing-masing yang telah selesai dibersihkan.
Sambil menunggu waktu sholat ashar kami beristirahat sejenak di kamar masing-masing. Setelah itu kami berkumpul di pinggir kolam untuk mengikuti berbagai lomba. Banyak sekali lomba yang diadakan diantaranya lomba tarik tambang, lomba bakiak, dan lain-lain. Namun yang paling menarik adalah lomba mencari dan mengambil uang di dalam kolam. Oleh panitia uang dalam bentuk pecahan seratus ribu, limapuluh ribu, duappuluh ribu, sepuluh ribu, dan berbagai uang logam dimasukkan ke dalam plastik kemudian disebarkan ke dalam kolam. Kami semua diharuskan terjun ke dalam kolam untuk mencarinya. Karena masih berpakaian lengkap tentunya sulit untuk menyelam mengambil uang-uang tersebut. Itu yang terutama aku alami dan aku keluar kolam tanpa mendapatkan apapun kecuali kegembiraan dan pakaian yang basah kuyup. Kami langsung kembali ke dalam kamar untuk mandi dan sholat magrib.
Namun ada peristiwa menegangkan yang terjadi, tiga orang teman yang di kamar lain memaksa pindah ke kamarku karena mereka merasa ada yang aneh di kamar mereka. Mereka bercerita bahwa TV dan lampu yang ada di kamar mereka tiba-tiba saja mati. Karena takut mereka langsung memaksa tidur di kamar kami. Terpaksalah kamar yang tadinya hanya untuk 4-5 anak dipenuhi dengan 7 anak. Bisa dibayangkan bagaimana ramai dan kacaunya. Terutama waktu tiba saatnya mandi. Terpaksa kami mandi berdua-berdua supaya bisa mengikuti sholat magrib berjamaah.
Setelah sholat magrib, kami kembali berkumpul dipingir kolam untuk makan malam bersama sambil mengikuti acara pembagian hadiah-hadiah lomba dan pemberian penghargaan kepada siswa dan guru berprestasi. Nah, akhirnya tiba saat yang kami tunggu-tunggu yaitu acara api unggun. Walaupun kami kecewa karena acara api unggun tidak seperti apa yang ada dalam bayangan kami tetapi tetap rasanya luar biasa karena inilah saat terakhir aku dan sahabat-sahabatku dapat berkumpul bersama.
Tepat jam 11 malam seluruh acara selesai, kami kembali ke kamar untuk beristirahat. Sulit rasanya memejamkan mata walau badan terasa lelah. Akhirnya kami memutuskan untuk ngobrol sambil mengganggu teman-teman di kamar lainnya lewat telepon. Saking asyiknya, ada salah satu teman yang salah menekan nomor telepon dan akhirnya nyasar ke kamar guru pengawas. Kami sangat terkejut, untung saja, guru yang mengangkat adalah Ibu Tuti, guru kami yang baik dan sangat lucu. Ibu Tuti malah mengganggu kami dengan menyamar jadi orang lain. Tiba-tiba, sekitar pukul 12 malam terdengar suara orang berteriak keras sekali dari kamar sebelah. Karena taku kami langsung berteriak dan berlari keluar. Ternyata seluruh penghuni kamar juga sudah berlari ketakutan karena suara itu. Salah satu guru langsung menanyakan siapa yang berteriak, ternyata dua teman kami yang tertinggal di kamar yang seram itu. Seketika itu juga dua orang teman itu minta pindah ke kamar lain. Ibu guru langsung menyuruh kami masuk kamar dan tidur.
Esok harinya setelah sarapan pagi kami meninggalkan Lembang. Kami mampir di cihampelas untuk belanja di outlet-outlet. Kemudian setelah makan siang kami langsung menuju Jakarta. Di jalan sempat terjadi musibah karena salah satu bus terpaksa tidak dapat melanjutkan perjalanan karena koplingnya terbakar. Jadi terpaksa bus dan teman-teman yang ada di dalam bus berhenti untuk menunggu bus pengganti. Akhirnya kami sampai di Jakarta tepat pukul 7 malam sedangkan bus yang mogok baru sampai Jakarta pukul 11 malam. Sungguh melelahkan, namun kami semua merasa sangat gembira. Tidak mungkin kami lupakan ….. semalam di Lembang yang penuh kenangan.


Tengku Nadya Shafira 7 E

Pantun dalam 3 hari....!!!



Duh, kali ini aku mendapat tugas membuat pantun dari Pak Ucok. Aku disuruh buat 5 pantun. Lumayan susah juga sieh. Bingung cari sampirannya. Tapi selesai juga akhirnya dalam waktu 3 hari!!! Trus pantun yang nomor 6 itu cuma tambahan gak termasuk tugas.


1. Baju indah lengan setali
Dihias dengan mewahnya
Cewek itu cantik sekali
Tapi sayang bau badannya


2. Kapal berputar bagai layang – layang
Layang – layang diulur sepanjang tangan
Cepat belajar adikku sayang
Karena besok ada ulangan


3. Bunga mawar bunga kemuning
Kemuning indah lekaslah tumbuh
Kakak datang membawa nasi kuning
Semoga adik lekaslah sembuh



4. Buah kiwi buah kedondong
Sama – sama asam rasanya
Hai kawan bagi – bagi dong
Jangan makan sendiri aja


5. Ikan sepat ikan gabus
Ikan kembung ikan lele
Makin cepat makin bagus
Agar tidak bertele – tele


6. Jalan – jalan ke kota Paris
Mampir dulu di Singapura
Siapa cewek yang paling manis
Tentu saya Nadya Shafira



(Dibuat oleh: Tengku Nadya Shafira 7E)

Sepucuk surat untuk sahabat

Nich, ada tugas lagi dari Bu Dita membuat surat pribadi. Trus aku nulis surat buat temanku waktu SD, Husna. Dia sekarang sekolah di gontor. Gilee gak kebayang yach, kalo aku harus sekolah disana juga!!! Nilaiku kali ini 80. Gini suratnya:

Sahabatku Jakarta, 4 Agustus 2008
Husna
Di Gontor

Assalamualaikum Wr. Wb.
Hai Hus, apa kabar? Semoga kamu baik-baik saja. Aku dan keluargaku disini, alhamdulilah, sehat wal’afiat. Hus, bagaimana suasana di Gontor? Apakah kamu senang? Seruan mana sama di Jakarta? Apakah kamu sudah dapat teman baru? Aku disini sudah punya banyak teman baru, loh!
Wah, sudah lumayan lama juga kita berpisah, ya? Kamu masih ingat sewaktu kita di SD dulu? Saat kita mengerjakan tugas-tugas warcil? Kamu paling dapat diandalkan saat melakukan wawancara karena kamu pemberani dan tidak pemalu.
Kemudian saat kita main ke rumah teman-teman kita. Kita main air di rumah Vivi dan sampai rumah langsung dimarahi karena baju kita basah. Juga saat kita diantar Bapaknya Vivi dengan mobil bak terbuka.Kita dapat merasakan AC yang alamiah. Kemudian saat di rumahmu kita melempar batu di sungai. Juga sewaktu di rumah Dita, Kita jalan jauh sekali untuk pergi ke warung. Kamu pasti sulit melupakan semua kejadian itu.
Hus, sebentar lagi kita memasuki Bulan Ramadhan aku mohon maaf apabila selama kita berteman ada kata maupun perbuatanku yang menyakiti hatimu. Apakah saat lebaran nanti kamu pulang ke Jakarta? Kabari aku ya sebelumnya sehingga aku bisa mengumpulkan teman-teman yang lain untuk jalan – jalan lagi.
Sekian dulu surat dari aku. Aku tunggu balasanmu, ya! Sampai ketemu di Jakarta lebaran nanti.


Sahabatmu,



Tengku Nadya Shafira

Cerpen Bahasa, Lumayaaan 75!!!

Tugas bahasa indonesia saat membaca cerpen dan mendapat nilai 75 yaitu:
Aku Benci Hujan!
Oleh : Intan Permata


Uh… hujan lagi! Aku benci Hujan, apalagi, hujan deras seperti sore ini. Kalau sudah begini, rumahku pasti kebanjiran.
“Ermi…! Tolong bantuin Mama angkat barang-barang ke atas lemari,” teriak Mama dari ruang tamu.
“Iya Ma,” sahutku dari dalam kamar. Padahal, kalau tidak hujan, sore ini aku bisa bermain boneka di rumah Nana. Aku benci hujan!
“Cepetan Ermy, air di jalan sudah tinggi, sebentar lagi mungkin air akan masuk ke dalam rumah,” ujar Mama dengan wajah cemas.
Aku naik ke kursi dan menaikkan barang-barang yang diulurkan Mama ke atas lemari. Kalau saja Papa ada di rumah, mungkin pekerjaan mengangkat barang seperti ini akan berjalan lebih cepat.
“Ah…!” Mama berteriak agak histeris. “Airnya sudah masuk rumah!”
Aku menoleh. Oh… air sudah menggenangi lantai setinggi mata kaki, padahal masih banyak barang yang belum sempat diangkat.
“Boneka Ermy!” teriakku sedih, melihat bonekaku tenggelam.
“Biar Mama ambil,” ucap Mama melangkahkan kaki sambil mengangkat roknya agar tidak basah. “Nanti kita cuci ya,” ucap Mama.
Aku mengangguk sambil terisak.
Dari kaca jendela, diluar hujan terlihat semakin deras. Air yang menggenangi ruangan semakin tinggi. Dengan wajah cemas, Mama terus menaikkan barang-barang penting ke tempat yang kemungkinan tak akan dicapai air.
“Kita ke kamar tamu, Ermy,” Mama mengulurkan tangan kepadaku, hendak menggendong.
“Ermy turun sendiri, Ma. Aaaa… Airnya tinggi banget Ma!” teriakku saat menginjakkan kaki ke lantai dan tersadar bahwa kini genangan air setinggi dadaku.
Kalau ini kolam renang aku tentu senang, tetapi air yang menggenangi tubuhku sekarang ini berbau, berwarna coklat, dan kotor!
Hmmm… sepertinya aku kenal sebagian kecil dari sampah-sampah yang menggenang itu. Ah! Itu kan sampah plastik yang aku lihat di selokan depan rumah tadi pagi! Oh, tidak! Sampah-sampah dari selokan kan kotor sekali! Aku benci banjir! Aku benci hujan! Mama membuka pintu kamarku. Ah, tidak… Benda-benda kesayanganku sudah terendam air semua. Aku sedih.
Hujan deras itu tak mau berhenti. Tiga hari ini rumahku terus digenangi air kotor yang menjijikkan itu. Genangan air itu kini setinggi dada Papa. Aku dan Mama dibawa Papa pergi ke rumah Nana yang rumahnya lebih tinggi. Orang-orangpun banyak yang mengungsi.
Tiga hari ini aku sakit. Mama juga sakit. Aku kedinginan dan kelaparan, tetapi kata Mama di rumah Nana sudah tidak ada makanan. Aku benci hujan!
Tim penyelamat datang. Mereka membawa seisi rumah ke atas perahu karet secara bergiliran. Aku terkejut sekali saat melihat air coklat yang menjijikkan itu nyaris menggenangi atap rumah.
Kotaku memang biasa didatangi banjir. Tetapi, biasanya banjir tahunan itu hanya setinggi pinggangku.
Turun dari atas perahu karet, aku, Mama, dan Papa dibawa tim penyelamat ke sebuah tempat bertenda yang dihuni banyak orang, mungkin ratusan orang. Aku benar-benar merasa tak nyaman. Aku masih sakit, kedinginan, dan kelaparan.
Horeee… Oma dan Opa datang. Siang itu, setelah tiga hari tinggal di tenda, kami sekeluarga tinggal di tempat yang lebih nyaman di rumah Opa di Jampang, sebuah tempat di Kabupaten Sukabumi.
Aku senang sekali dapat melihat gunung dan sungai jernih di persawahan saat tiba di rumah Opa. Tetapi, bagaimana dengan keadaan teman-temanku disana?
Seminggu tinggal di rumah Opa, tiba-tiba turun hujan.
“Mama…!” teriakku saat mendengar tetesan hujan jatuh ke atas atap rumah Opa. “Aku takut!”
“Tenang Ermy,” ujarnya sambil memelukku. “Disini enggak akan ada banjir.”
Meski Mama bilang tenang, tetap saja aku takut.
“Ermy…!” teriak Yudi, sepupuku dari luar rumah. “Main hujan-hujanan yuk!”
“Hujan-hujanan? Enggak mau ah. Takut banjir.”
Yudi tertawa. “Banjir bagaimana? Mau main enggak?” Ia kemudian berlari ketengah halaman, memain-mainkan daun pisang dengan anak-anak tetangga, membentuk barisan, seperti kereta api.
“Kok mereka enggak takut ada banjir sih Mama?” tanyaku iri melihat mereka bersenang-senang dengan air hujan.
Mama tersenyum. “Kalau di sini enggak pernah ada banjir Ermy. Lihat keluar banyak pohon, kan?”
Aku mengangguk. “Ermy tahu kan kalau tanah itu memiliki pori-pori atau lubang-lubang kecil sehingga jika air jatuh ke atas tanah akan masuk ke bagian tanah yang lebih dalam?”
Aku mengangguk lagi.
“Nah, saat turun hujan, air yang masuk ke dalam tanah akan diserap akar-akar pohon yang ada di dalam tanah. Makanya, sederas apapun hujan, air itu tidak akan menggenang. Di Jakarta kebanyakan jalanan terbuat dari beton karena itu enggak punya pori-pori untuk mempersilahkan air masuk ke bagian yang lebih dalam, air hujan yang turun akhirnya menggenang, dan terjadilah banjir. Apalagi di Jakarta pohon-pohon yang ada itu sedikit sekali. Jadinya enggak ada akar yang bisa menyerap air.”
“Kalau begitu, mengapa di Jakarta jalan-jalannya enggak diganti dengan tanah saja Ma? Atau beton-beton dibolongin kecil-kecil biar air hujan enggak menggenang? Terus pohon-pohonnya dibanyakin?”
Mama tertawa kecil. “Itu akan jadi tugas buat kamu kalau sedah besar nanti Ermy,” ujarnya sambil tersenyum.
“Ya… repot. Enggak usah hujan aja sekalian,” ucapku.
Mama tertawa. “Lho! Kalau enggak ada hujan, bagaimana kita bisa minum? Bagaimana pohon bisa tumbuh dan sungai di pegunungan bisa mengalir? Tuhan itu enggak mungkin menciptakan sesuatu tanpa ada maksudnya. Semuanya memiliki fungsi tersendiri.”
Aku mangut-mangut. Begitukah? Hmmm, mungkin aku harus berpikir ulang untuk tidak membenci hujan, tetapi aku masih tak suka banjir. Jadi suatu saat nanti aku akan mencegah tetesan hujan itu menjadi banjir.


Disadur oleh : Tengku Nadya Shafira 7E
dari Harian Kompas, Minggu, Oktober 2008, hal 25